Postingan

Pertemanan, Buat apa?

Diawali hidup dan diakhiri mati. Manusia diciptakan Tuhan ada sebab. Sepertihalnya semut, nyamuk, katak, bunga cempaka, bunga kantung semar, bunga kumis kucing dan semua. Semua yang dari ciptaan-Nya itu saling terkait, saling membutuhkan, saling melengkapai, saling membagi, saling meberi. Dengan manusia Tuhan menganugrahkan sifat sosial, dari itu nalar fikirnya manusia bergerak. Bentuk nalar dari sifat sosial yang diberikan Tuhan adalah dengan saling berteman antara manusia dengan manusia. Manusia dengan hewan, manusia dengan tumbuhan, manusia dengan air, manuasia dengan alam, bahkan manusia dengan batu dan ransel. Tapi sangat menarik itu pertemanan antara manusia dengan manusia. Buat apa pertemanan? Apa manfaatnya?. Dalam sebuah pertemanan itu terselip konsep luhur yang tidak bisa diucapkan secara detail dengan kata. Apa konsep luhur itu? "Kasih". "Filsuf klasik" Aristoteles berpendapat tiga alasan orang menjalin pertemanan, yaitu hedonic/pleasur...

Di Tepian Ujung Jalan

Kenapa kau resah datangnya senja? Tidak kah kau tau, pertanda bintang-bintang nampak Kenapa kau takut datangnya malam? Bukan kah gelapnya membawa kita tuk hening Pada persimpangan jalan kita memilih Hendak kemana langkah menuju Bukan tak punya arah kita bergandengan Hanya kebingungan yang mengikuti Kita lihat itu... Di tepian ujung jalan sepasang burung bercengkrama Meski senja menutup samar mereka Kita masih bisa memandanginya Biarkan waktu melaju cepat lewati hari Dan sinar meredup menjadi gelap Pada tepian ujung jalan kita niatkan Menyatu untuk merebah lelah

Ketika Aku Harus Menulis Puisi

Bukan sebuah karya sekelas Sapardi Djoko Damono Hanya sekelas sastra gelandangan Bukan Puisi yang tertuliskan Hanya sebuah sajak pembias fikir Ketika aku harus menulis puisi Taukah kamu, tak terbersit bait yang bisa tertulis Ketika aku harus menulis puisi Taukah kamu, hanya kemurungan yang ku dapati Ketika kata hendak terangkai Tak ada kuat jemari bergerak Ketika aku harus menulis puisi Tak kau dapati bait-bait rasa

Keruh Kopi

Tak akan datang hujan bila Dia tak berkehendak Tak akan berbunga cempaka bila tak berkuncup Tak akan gugur daun bila tak tertiup angin Hari hari penuh lalu lalang Tak seteguk keruh kopi yang terkecup Sinaran kian meredup Hanya seikat lidi yang bisa ku dapat, dan bukan sebatang besi Sisa senja membawa pada rebahan badan Tak seteguk keruh kopi yang terkecup Hingga badan merengkuk di pelataran Hanya gelap malam yang ternikmati Tak akan ada bara bila tak ada api Tak akan ada karang bila tak ada laut Tak akan ada keruh kopi bila tak meracik....

Rasa..

Ingin kembali ke Jogja meletakan keluh rindu dan merebah di pundak mu memandang serta wajah lebar mu rasa ini tak berdusta dan fikir ku pun kalut Di rimba raya Tuhan mempertemukan kita langit biru dan rekahan bunga cempaka menjadi saksi itu dan rasa ini sungguh tak berdusta Hendak ku titipkan rindu pada elang terbang membawakan sebait cerita rindu pada mu namun rasa kian bimbang dan elang pun lepas melayang.. Rasa bergejolak fikir mengajak serta jiwa untuk bersegera ke Jogja bukan alasan untuk pulang ke tanah kelahiran namun melepas rasa pada mu Oh sang bayu.. bawa serta hatinya pada ku malam ini satukan rasa itu di keheningan sinar purnama sebelum langkah ku ke tanah pembayun..

Aku Seorang TKW

"Mar..potok-no aku nyang kene, ko sek tak ndandani rambut ku, ayo mbak sri poto bareng aku", obrolan dengan bahasa jawa itu tak sengaja ku dengar saat 4 orang wanita duduk di depan ku dengan penampilan yang begitu modis dan wajah ber-meke-up, saat kami berada dalam satu ruangan tunggu yang sama disalah satu bandara internasional di negeri ini, kemarin. Di sisi samping kiri ku duduk dua orang, pria dan wanita yang memperhatikan empat wanita tersebut. Si pria berbisik kepada teman wanitanya "Itu rombongan TKW yang baru pulang sepertinya, coba lihat dandanannya heheh" ucap si pria yang mengenakan kaos putih bergambar logo sebuah perguruan tinggi negeri terkemuka di Jawa yang bertuliskan Megister Manajemen Pendidikan Tinggi, meskipun pelan tapi masih terdengar juga bisikan itu ditelinga ku. Entah itu merupakan bisikan sebuah penilaian negatif atau yang lainnya.  " Aku yo arep poto bareng, yo wong papat, pake kamera henpon iki wae, apik hasile, njaluk tulong ...

Jiwa di Tepian

Nyiur mengoyang dedaunan runtuh satu, sepuluh, seratus gugur.. tersapu bayu, tertutup debu.. terbawa ombak, mengarung jauh, jauh, jauh hingga ke tengah biru lepas Tak ada sunyi.. deburan, hempasan, dan nyanyian camar membuat riuh tak ada sepi... hatiku pun tiada merana.. jiwa ku ditemani bayu, jiwaku disapa debu, jiwaku dihampiri ombak, camar pun melambaikan sayapnya Bila pun sunyi.. jiwa ini tak akan turut serta mengarung tak akan jauh mengikuti camar Biar pun sunyi, jiwa ini tetap kokoh kokoh tegak berdiri bak cemara membiarkan cabang tumbuh, membiarkan akar mengikat kuat buana membiarkan daun merindang Tak ada sunyi dalam hati ini, tak pula sepi di jiwa ini tak ada, sungguh tak ada meski jiwaku di tepian..