Postingan

Orang Jawa yang Njawani

Ajaran budi pekerti Jawa itu paling unggul, menurutku. Sejak lahir hingga dewasa Ibu, Bapak, Simbah uti, Simbah Kakung, selalu mengajarkan dan memberi contoh bagaimana berprilaku yang sang santun, yang "njawani" . Budi pekerti Jawa itu memperpadukan antara rasa, fikir, dan tindakan yang "njawani" Apa itu njawani ?, Njawani itu terselip nilai-nilai yang inheren. Njawani itu mengerti, refleksi, harmoni,universal, proses yang progresif-simultan. Laku menjadi orang jawa merupakan proses untuk mengerti berbagai realitas baik yang ada di alam pikiran manusia ataupun alam semesta. Bentuk  mengejawantahkan laku yang "njawani"  seperti apa? . "Migunani tumrap karaharjaning urip bebrayan " kalau diartikan berguna bagi kesejahteraan hidup umat manusia juga semesta. Laku yang didasari pada kegunaan bukan hanya diri sendiri tetapi laku yang menyertakan dampak guna untuk yang lainya dan juga semesta dari yang diciptakan Gusti Maha Agung....

Menanti Hasil Test

" Anda sebaiknya melakukan test laborat, sehingga hasil diagnosa saya sementara bisa lebih akurat, kalau kita lihat tadi hasil USG dibagian ..... menunjukan sebuah...... apakah itu berbahaya, dan riwayat penyait J.... anda juga sangat mempengaruhi kondisi anda, dan.......bla-bla" Itu obrolan dengan dokter yang praktik di Klinik...., Senin aku harus menunggu hasi test laborat. Apapun hasilnya ya diterima dengan siap. Mau sehat ya berusaha melawan penyakit, mau sehat ya tubuh tuh diperlakukan dengan baik, mau sehat ya hidup dengan teratur, dah itu saja. Buat bahagia deh, jangan terlalu difikirkan yang penting tuh penyakit diobati, mau pake herbalist, mau pake medis, jangan apatis, apalagi pesimis. Mati tanpa penyakit itu Tuhan yang berkehendak, Hidup dengan umur panjang dengan penykit juga Tuhan yang punya kehendak. Mari bernyanyi, mari jalan-jalan, mari bercanda dengan teman, mari membaca, mari-mari dan mari yang bisa membuat hati bahagia, berfikir lebih positif, dan ...

Bos Vs Leader

Gambar
"Remember the different a boss and leader, a boss says go !, a leader says let's go.." Heheheh.... Jadi berfikir, jadi mengkoreksi diri, mengkoreksi orang lain. Menjadi Bos apa menjadi Leader? Yang begini ini yang sering mejadi pertanyaan? Itu Bos, suka nyuruh _ nyuruh, karena dia merasa yang punya uang, ini bisa bisa berlaku kalau usahanya Jualan batu bata. Bos yang punya mesin, punya modal buat buat bayar pekerja. Nah kalau dalam sebuah organisasi, non profit lagi, ngurusin kerja-kerja sosial, dapat pembiayaan dari donor, nyusun proposal bareng-bareng, ngerjain proyek bareng itu dikomandoi oleh seorang Leader atau pemimpin. Nah, kalau seorang pemimpin organisasi non profit, menganggap dirinya Bos, itu berarti terjadi "mal-prilaku". Menggapa bisa terjadi seperti itu?. Menurut ku merasa dirinya bos, pola yang digunakan itu prilaku feodal. Kalau didasarkan pada prilaku feodal, Bos itu ngak perlu pintar yang penting dia punya segalannya. Kalau ...

Saya Nangis Beneran, Bukan Nangis-nangisan

Menangis, dengan cucuran air mata itu satu paket. Kalau sudah seperti itu nangis beneran, bukan nangis buaya atau nangis-nangisan. Menangis itu lumrah. Bayi lahir, keluar dari perut ibu langsung diawali dengan teriakan tangisan. Kalau ngak nangis justru orang yang melihat bayi pada bingung. Menangis itu banyak sebab. Menangis bahagia dapat undian, menangis bahagia dapat pekerjaan, menangis haru karena ketemu teman. Kalau menangis sedih ya seperti menangis ditinggal pacar, menangis kesepian karena menyandang status "Tuna Asmara" atau "Jomblo" , menangis ditinggal mati seseorang dan menangis karena dimarahi. Menangis itu bukan berarti "Cengeng". Menagis adalah cara untuk respon dari akumulasi rasa yang ada pada fikiran. "Saya nangis beneran, bukan nangis-nangisan, karena saya stress, saya tidak punya teman untuk bercerita". Pada kondisi itu menangis bisa menjadi cara untuk mengurai kondisi strass pada diri. Bagaimana menangis bis...

Pertemanan, Buat apa?

Diawali hidup dan diakhiri mati. Manusia diciptakan Tuhan ada sebab. Sepertihalnya semut, nyamuk, katak, bunga cempaka, bunga kantung semar, bunga kumis kucing dan semua. Semua yang dari ciptaan-Nya itu saling terkait, saling membutuhkan, saling melengkapai, saling membagi, saling meberi. Dengan manusia Tuhan menganugrahkan sifat sosial, dari itu nalar fikirnya manusia bergerak. Bentuk nalar dari sifat sosial yang diberikan Tuhan adalah dengan saling berteman antara manusia dengan manusia. Manusia dengan hewan, manusia dengan tumbuhan, manusia dengan air, manuasia dengan alam, bahkan manusia dengan batu dan ransel. Tapi sangat menarik itu pertemanan antara manusia dengan manusia. Buat apa pertemanan? Apa manfaatnya?. Dalam sebuah pertemanan itu terselip konsep luhur yang tidak bisa diucapkan secara detail dengan kata. Apa konsep luhur itu? "Kasih". "Filsuf klasik" Aristoteles berpendapat tiga alasan orang menjalin pertemanan, yaitu hedonic/pleasur...

Di Tepian Ujung Jalan

Kenapa kau resah datangnya senja? Tidak kah kau tau, pertanda bintang-bintang nampak Kenapa kau takut datangnya malam? Bukan kah gelapnya membawa kita tuk hening Pada persimpangan jalan kita memilih Hendak kemana langkah menuju Bukan tak punya arah kita bergandengan Hanya kebingungan yang mengikuti Kita lihat itu... Di tepian ujung jalan sepasang burung bercengkrama Meski senja menutup samar mereka Kita masih bisa memandanginya Biarkan waktu melaju cepat lewati hari Dan sinar meredup menjadi gelap Pada tepian ujung jalan kita niatkan Menyatu untuk merebah lelah

Ketika Aku Harus Menulis Puisi

Bukan sebuah karya sekelas Sapardi Djoko Damono Hanya sekelas sastra gelandangan Bukan Puisi yang tertuliskan Hanya sebuah sajak pembias fikir Ketika aku harus menulis puisi Taukah kamu, tak terbersit bait yang bisa tertulis Ketika aku harus menulis puisi Taukah kamu, hanya kemurungan yang ku dapati Ketika kata hendak terangkai Tak ada kuat jemari bergerak Ketika aku harus menulis puisi Tak kau dapati bait-bait rasa

Keruh Kopi

Tak akan datang hujan bila Dia tak berkehendak Tak akan berbunga cempaka bila tak berkuncup Tak akan gugur daun bila tak tertiup angin Hari hari penuh lalu lalang Tak seteguk keruh kopi yang terkecup Sinaran kian meredup Hanya seikat lidi yang bisa ku dapat, dan bukan sebatang besi Sisa senja membawa pada rebahan badan Tak seteguk keruh kopi yang terkecup Hingga badan merengkuk di pelataran Hanya gelap malam yang ternikmati Tak akan ada bara bila tak ada api Tak akan ada karang bila tak ada laut Tak akan ada keruh kopi bila tak meracik....

Rasa..

Ingin kembali ke Jogja meletakan keluh rindu dan merebah di pundak mu memandang serta wajah lebar mu rasa ini tak berdusta dan fikir ku pun kalut Di rimba raya Tuhan mempertemukan kita langit biru dan rekahan bunga cempaka menjadi saksi itu dan rasa ini sungguh tak berdusta Hendak ku titipkan rindu pada elang terbang membawakan sebait cerita rindu pada mu namun rasa kian bimbang dan elang pun lepas melayang.. Rasa bergejolak fikir mengajak serta jiwa untuk bersegera ke Jogja bukan alasan untuk pulang ke tanah kelahiran namun melepas rasa pada mu Oh sang bayu.. bawa serta hatinya pada ku malam ini satukan rasa itu di keheningan sinar purnama sebelum langkah ku ke tanah pembayun..

Aku Seorang TKW

"Mar..potok-no aku nyang kene, ko sek tak ndandani rambut ku, ayo mbak sri poto bareng aku", obrolan dengan bahasa jawa itu tak sengaja ku dengar saat 4 orang wanita duduk di depan ku dengan penampilan yang begitu modis dan wajah ber-meke-up, saat kami berada dalam satu ruangan tunggu yang sama disalah satu bandara internasional di negeri ini, kemarin. Di sisi samping kiri ku duduk dua orang, pria dan wanita yang memperhatikan empat wanita tersebut. Si pria berbisik kepada teman wanitanya "Itu rombongan TKW yang baru pulang sepertinya, coba lihat dandanannya heheh" ucap si pria yang mengenakan kaos putih bergambar logo sebuah perguruan tinggi negeri terkemuka di Jawa yang bertuliskan Megister Manajemen Pendidikan Tinggi, meskipun pelan tapi masih terdengar juga bisikan itu ditelinga ku. Entah itu merupakan bisikan sebuah penilaian negatif atau yang lainnya.  " Aku yo arep poto bareng, yo wong papat, pake kamera henpon iki wae, apik hasile, njaluk tulong ...

Jiwa di Tepian

Nyiur mengoyang dedaunan runtuh satu, sepuluh, seratus gugur.. tersapu bayu, tertutup debu.. terbawa ombak, mengarung jauh, jauh, jauh hingga ke tengah biru lepas Tak ada sunyi.. deburan, hempasan, dan nyanyian camar membuat riuh tak ada sepi... hatiku pun tiada merana.. jiwa ku ditemani bayu, jiwaku disapa debu, jiwaku dihampiri ombak, camar pun melambaikan sayapnya Bila pun sunyi.. jiwa ini tak akan turut serta mengarung tak akan jauh mengikuti camar Biar pun sunyi, jiwa ini tetap kokoh kokoh tegak berdiri bak cemara membiarkan cabang tumbuh, membiarkan akar mengikat kuat buana membiarkan daun merindang Tak ada sunyi dalam hati ini, tak pula sepi di jiwa ini tak ada, sungguh tak ada meski jiwaku di tepian..

Menjadi Peti Besi

"Hidup itu hanya sekali, maka nikmatilah senikmat mungkin kamu merasakannya" kata teman ku dalam sebuah penutup diskusi surel. Satu tuhun ini memang kurasakan kesibukan kerja selalu saja menyita waktu ku, sabtu dan minggu yang seharusnya dinikmati untuk beristirahat, tidur seharian atau sekedar joging dan bersepeda-pun tak ku rasakan. Jadi memang belum bisa aku menikmati hidup ini dengan hal kecil dan sederhana. Kerja-kerja-kerja, bagaimana caranya untuk memposisikan bahwa "hidup untuk kerja, kerja untuk hidup" dan bagaimana menikmati kerjamu dengan cara yang sederhana. Jangan posisikan diri seperti sebuah peti besi, diisi dengan semua hal, dibawa kesana kemari tak kenal waktu, meski hujan, panas, siang, malam, dan diisi lagi pada saat peti itu kosong. Kalau seperti itu sipeti-pu akan kusut dan bahkan penyok. Cukup mahal untuk bisa menghaluskan peti dan membtuk si peti menjadi bagus lagi. Dan belum tentu pula si pemakai peti itu peduli untuk merawat.

Bercumbu Kata

Berfokus... Konsentrasi.. Merasional.. Mengimajinasi.. Bait-bait terangkai... Kata, kata terjejer.. Kau pilih mana? Bercumbu kata manis yang imajinatif.. Bercumbu kata logis yang rasionalis.. Hari hari sunyi... Waktu waktu riuh.. Semua yang terjadi... Bercumbu kata.. Akan menyimpan semua bait-bait Pada secarik atau ratusan carik.. Bila selalu bercumbu kata

Kunyuk Parlemen

Hai Bung... Engkau yang berdasi, parlente bersafari Dengan arloji kemerlap, Alas kaki yang mengkilap Bersuara, berbicara bak cendikia Beropini, bercuap-cuap sok cakap Hai Bung... Duduk nyaman kau di kursi kuda-kuda Dingin ruangan dan harum horden di parlemen Bergelimang angka-angka komisi... Bertumpuk amplop-amplop tebal... Hai Bung... Apa yang kau perbuat disana... Tak seirama dengan janji-janji mu pada para jelata... Hai Bung.. Tak salah kami ucap kau kunyuk parlemen... Dan memang pantas kau bernama kunyuk parlemen...

Gila gila Jalanan..

Kusam setubuh itu.. Tertutup helai-helai kain rombeng.. Bau-bau menyatu... Dia merdeka untuk hatinya.. Dia bebas dari antah brantah.. Dia leluasa dengan pikirnya.. Dia tidak gila, tapi waras untuknya.. Dia tidak kalah oleh emosinya.. Dia pilih dari  akhir persoalan... Gila gila jalanan... Deru hujan pembersih peluhnya.. Panas terik selimut tubuhnya.. Debu angin lulurannya.. Gila gila jalanan... Terus berjalan, menyusur tak lelah.. Berbincang dengan kesunyian.. Memulung sampah-sampah jalanan... Gila gila jalanan... Terasing dari gemerlap.. Tersingkir dari keramaian.. Terpinggir, terkucil, di jalanan

Hari-hari Huru-hara

Hari-hari huru-hara... Agitasi ini bukan agitasi Berontak, menolak, mengkoyak... Hasut bukan hasut.... Tapi jua bukan  propaganda.. Iring-iring hujatan.. Deru-deru kemarahan... laju-laju emosi.. membara..... Hari-hari huru-hara... Sumpah serapah menggema Mengaung-ngaung bak harimau.... Mecabik-cabik marah... Emosi..dan ini bukan agitasi... Hari-hari huru-hara... Mukhalaf..memang ! Konfrontasi emosi...! jua... Hari-hari huru-hara... Ini aksi hati.... Menolak pendustaan... Menolak ketidakadilan... Menolak ketidakmanusiawian... Hari-hari huru-hara... Ini aksi hati... Bukan pula agitasi

Eoe Ya Eya... Sorak Panen

Ani-ani.... Goni-goni... Tali-tali.... Pijak kaki bergegas Lengan dan bahu mengeras Nafas mengepal, menderu bersorak sorai Ani-ani... Goni-goni... Tali-tali... Menyibak, menggengam Serumpun dilengan cekatan Sabet..sabet...sabet... Bulir butir rontok Sapu.. sapu..berserak mengumpul... Eoe Ya Eya... Sorak Panen Ani-ani... Goni-goni... Tali-tali... Terik tak melemah Hujan tak menyurut Peluh menyetubuh Eoe Ya Eya... Sorak Panen Goni...tali.. padat mengikat Membayar semangat.. Menyambung nyawa..dari bulir bulir...

Untuk Menjawab Sunyi

Tak ingin dua kali Memilih hidup  sekali saja Bukan rona kegundahan Sudah berikan saja garis tangan Pahatan hati dari dua yang Kau padukan Saat ini, esok, atau masa mendatang Agar tak ada lagi muram durja hingga senja Bukan bulan terang yang perlu Kau berikan Cukup saja bintang timur itu dengan sinar kecilnya.. Biar di relung ini.. Sang sinar itu membuai tanpa batas.. Hingga akhir hidup yang sekali saja Untuk menjawab sunyi..

Genetically-Modified Organisms / GMO's II

Gambar
Beberapa dekade yang lalu, beberapa ilmuwan menemukan bahwa gen-gen terletak di bagian tengah sel dalam untaian-untaian yang disebut kromosom. Kromosom dapat dilihat dengan mudah melalui mikroskop. Para ilmuwan kemudian dapat melihat di dalam kromosom dan mengetahui bagaimana mereka terorganisasi. Bagian dalam kromosom itu disebut DNA dan para ilmuwan baru-baru ini menemukan bagaimana ia tersusun. Dengan pengetahuan baru ini, beberapa ilmuwan memutuskan untuk memanipulasi DNA itu sendiri, daripada menghabiskan waktu untuk melakukan pemuliaan. Mereka ingat misalnya, bahwa sejenis bakteri bernama Bacillus thuringiensis (Bt) dapat membunuh ulat pada banyak tanaman. Petani menggunakan semprotan Bt untuk mengendalikan hama pada tanaman mereka dan sangat membantu selama bertahun-tahun. Beberapa ilmuwan menggunakan mikroskop dan instrumen-instrumen lain untuk menemukan gen dalam Bt yang memungkinkannya untuk membunuh ulat-ulat itu. Kemudian mereka memutuskan untuk menempatkan gen-gen dari ...

Beethoven - Moonlight Sonata#Piano Sonata No.14

Gambar
Beethoven - Moonlight Sonata#Piano Sonata No.14. Dua bulan ini seperti terbius oleh alunan musik-musik clasik sang maestro. Ternyata membawa aliran-aliran rasa yang berbeda, bukan dikira musik clasik hanya dinikmati kalangan tua, itu seperti memberikan pemahaman yang dipaksakan. Telinga ku pun mulai menikmati alunan-alunan lembut nan membius.Beethoven - Moonlight Sonata#Piano Sonata No.14, Just listening brings tears to shed... The song is beautiful, but sad. Music is truly if not the best, one of the best ways to show your feelings, ironically, often more when there are no lyrics. I wonder what Beethoven had felt to write this masterpiece... but it must have been heartbreaking>>> http://www.youtube.com/watch?v=4Tr0otuiQuU